Friday, 24 October 2014

Microsoft Akan Berhentikan 18.000 Karyawan

satya-nadella
Raksasa teknologi Microsoft akan memberhentikan karyawan dalam jumlah yang sangat banyak. Total ada 18.000 karyawan yang akan dirumahkan oleh Microsoft. Hal itu seperti disampaikan oleh CEO Microsoft, Satya Nadella melalui sebuah memo terbuka yang disampaikan kepada semua karyawan pada hari Kamis, (17/07/2014) kemaren
Menurut Satya Nadella, tujuan PHK masal ini adalah untuk merampingkan perusahaan agar bisa maju lebih cepat. Beberapa kalangan memang beranggapan jumlah karyawan Microsoft terlalu banyak. Apalagi sejak proses akuisisi Nokia selesai dilakukan beberapa waktu lalu dimana ribuan karyawan Nokia juga turut bergabung ke Microsoft. Saat ini Microsoft mempekerjakan sekitar 127 ribu orang
Sebagian besar karyawan yang akan diberhentikan tersebut berasal dari divisi device serta service Nokia, yakni sekitar 12.500 orang. Proses pemberhentian ini nantinya akan dilakukan secara berkala selama 12 bulan
PHK masal ini adalah yang terbesar sepanjang sejarah Microsoft. Satya Nadella sejatinya adalah CEO baru di Microsoft. Ia ditunjuk menjadi orang nomor satu Microsoft sekitar 5 bulan lalu menggantikan Steve Ballmer yang mundur. Tidak hanya memberhentikan karyawan, Nadella juga memutuskan untuk mematikan produk Nokia Android (Nokia X) dan akan fokus menggarap ponsel berbasis Windows Phone

Grid vGPU NVIDIA Mulai “Dicicipi” Beberapa Perusahaan

nvidia_grid
Beberapa perusahaan seperti Airbus Group dan MetroHealth baru-baru ini dikabarkan baru saja mencoba teknologi terbaru virtualisasi GPU, aplikasi virtual, dan infrastruktur desktop NVIDIA. Teknologi yang dikembangkan NVIDIA dan VMware ini memang menyediakan serangkaian uji coba bagi para perusahaan tertentu sebelum diperkenalkan secara massal nantinya.
Perusahaan tertentu yang mengikuti proses uji solusi ini akan melakukan penerapan teknologi baru tersebut. Mereka juga akan bekerja sama dengan tim dari NVIDIA dan VMware, dan akan memberi masukan bagi tim tersebut berdasarkan pengalaman menggunakan solusi ini dalam masa evaluasi.
Teknologi NVIDIA GRID vGPU sendiri memungkinkan berbagai mesin virtual untuk berbagi daya komputasi sebuah GPU. Tujuannya, menghadirkan pengalaman grafis yang baik via aplikasi 3D dan 2D. Digabungkan dengan VMware Horizon, teknologi ini diklaim akan menyajikan pengalaman yang memikat pengguna selain akan menghadirkan skalabilitas yang diperlukan tim TI bagi para pengguna yang membutuhkannya di perusahaan.
Akankah Android OS dan Chrome OS Melebur menjadi Satu OS?
Penulis : Iwan Ramos S. 
  0  0 Google +9  9

CHIP.co.id - Apapun OS-nya, apakah Android OS, Chrome OS, atau OS bernama lainnya sebagai “one OS to rule them all” kelak, Google sudah menunjukkan beberapa langkah strategi menuju ke sana. Apabila penyatuan OS benar-benar terjadi, strategi Google akan tidak jauh berbeda dengan Microsoft yang berniat menyatukan beragam OS-nya dalam satu “payung” Windows OS.
Apabila Google dan Microsoft mulai mengindikasikan penyatuan OS untuk beragam device, raksasa platform lainnya, Apple hingga kini masih menagnut dengan prinsip pemilahan dual OS, yakni Mac OS untuk notebook, desktop, workstation, dan iOS untuk tablet (iPad), smartphone (iPhone), dan media portable device (iPod).
 
Bagimana peluang masing-masing OS (Android OS atau Chrome OS) untuk dipilih Google menjadi OS masa depan? Hanya Google dan waktu yang akan menjawabnya. Kronologis yang terjadi beberapa tahun belakangan ini masih belum memberi indikasi kuat, apakah Google akan memilih Android atau Chrome sebagai OS masa depan.
 
Argumen dipilihnya Android sebagai OS masa depan Google bisa dilihat dari beberapa fakta berikut ini. Pertama, Android OS saat ini boleh dianggap sebagai platform mobile dari Google yang paling banyak digunakan saat ini. Jadi, cukup masuk akal jika Google memilihnya dengan alasan Android sebagai OS sudah akrab bagi pengguna smartphone dan tablet, termasuk ekosistem hardware dan software yang telah kuat pondasinya.
 
Fakta lainnya yang tidak kalah penting adalah metamorfosis lainnya dari Android sejak kemunculan versi awalnya di tahun 2008 hingga saat kini. Bukan hanya hadir di dalam smartphone dan tablet, turunan Android OS pun juga hadir di perangkat elektronik lainnya, seperti smart TV, kamera digital,smart glass (Google Glass), smartwatchin-car system, media player, VoIP phone, dan game console.
 
Jumlah smartphone Android yang telah berhasil dipasarkan sejak tahun 2010 hingga akhir 2013 tercatat telah mencapai 1.5 milyar unit. Bahkan jumlah ini akan diprediksi akan berlipat dua jumlah di akhir tahun 2014. Bukan suatu kejutan jika seandainya Google pun memilihnya sebagai OS andalannya unutk masa mendatang.
 
Meskipun arsitektur Android OS tidak dipersiapkan secara awal sebagai OS lengkap yang ideal juga untuk desktop/notebook seperti Microsoft Windows, bukan hal sukar bagi Google untuk mengembangkannya lebih lanjut menjadi OS ideal bagi semua device. 
 
 
Android OS yang sudah melewati fase perkembangan panjang (kini telah mencapai versi 5.0) bukan hanya hadir pada smartphone dan tablet, tetapi juga smart TV, kamera digital, smart glass (Google Glass), smartwatch, in-car system, media player, VoIP phone, dan game console.
 
 
Kernel Android OS yang awalnya berbasis Linux kernel long-term support (LTS) telah jauh dikembangkan/dimodifikasi dalam berbagai aspek sesuai kebutuhan Google. Android terkini (Android 5.0 Lollipop) yang dikembang dari Linux kernel 3.4 bahkan telah sarat dengan feature yang dianggap berperan penting agar Android lebih siap untuk beragam device. Dua feature yang bisa dijadikan indikasi itu adalah feature multiple device compatibility dan interface berbasis Material Design.
 
 
Meskipun bukan produsen hardware, Google berkepentingan untuk menyiapkan berbagai aspek untuk semua layanan/solusinya. Seperti program Nexus untuk Android, tanggungjawab Google untuk Chrome OS juga diwujudkan mereka dengan program Chromebook, termasuk besutannya sendiri, Chromebook Pixel.
 
 
Bagaimana dengan peluang Chrome sendiri sebagai OS pilihan Google di masa mendatang? Meskipun masih belum hadir secara luas di pasaran (hanya digunakan pada notebook Chromebook), perkembangan setahun belakang ini yang terjadi di internal Google bisa memberikan sedikit petunjuk pada kita.
 
Setahun lalu, Sundar Pichai yang selama ini aktif di unit Chrome dan Google Apps ditunjuk juga menggawangi Android yang sebelumnya dipegang oleh Andy Rubin. Kesuksesan Pichai menghantarkan Chrome menjadi browser populer saat ini dianggap menjadi salah satu alasan penunjukannya. Pichai mungkin dianggap bisa menjawab tantangan Google dalam mengembangkan kedua OS tersebut untuk menjawab tantangan yang dihadapi di masa mendatang.
 
Chrome OS yang sederhanya bisa dianggap sebagai suatu sistem operasi dalam kemasan browser ini mulai diagendakan Google untuk bisa menjalankan aplikasi Android (Android app) pada konferensi Google I/O. Salah satu cara yang ditempuh Google adalah mengintegrasikan programming framework Android yang “beraroma” Java.
 
Kepentingan besar lainnya dalam penggabungan platform ini tidak lain adalah untuk memudahkan para pengembang mengembangkan suatu app tanpa harus dipusingkan dengan beragam target device dan platform. Dengan demikian, apapun tantangan Google dalam memadukan kedua OS (jika memang terjadi) bukanlah masalah utama. Google akan lebih cemas jika ekosistem mereka, termasuk OS di dalamnya, bukan menjadi pilihan mayoritas bagi berbagai pihak.
 
Lewat "Kompetisi Memasak", Intel Paparkan Prosesor Berkualitas di Tablet
Penulis :  Eko Lannueardy 
  0  0 Google +2  12

CHIP.co.id - Rabu (15/10), Intel telah menggelar kompetisi mini memasak bertajuk “Intel Cook Off – The Power of Ingredients” di restaurant Gourmet World, Jakarta. Hal ini sengaja dilakukan oleh Intel sebagai bagian dari kampanye Performance Matters untuk memperlihatkan bagaimana kualitas dari ‘bahan-bahan’ yang terdapat dalam sebuah tablet, seperti prosesor bisa menentukan performa dan kemampuan perangkat tersebut.
 
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang ingin melakukan segala sesuatu dengan cepat, tepat dan efisien terutama ketika menggunakan tablet. Untuk mewujudkannya, kinerja tablet menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan. Beranjak dari situ, Intel ingin memperlihatkan kepada pengguna bagaimana korelasi dari sebuah kualitas prosesor Intel mampu menentukan performa perangkat tablet mereka sehingga dapat membantu melakukan beragam aktifitas sehari-hari dengan lebih cepat.
 
Dalam acara ini, Chef Yuda Bustara menantang beberapa jurnalis yang hadir untuk dapat memasak makanan dengan cita rasa yang lezat. Hal ini untuk membuktikan kepada pengguna Intel bahwa masakan lezat tidak ditentukan dari banyaknya kuantitas bahan maupun kuantitas yang memasak, melainkan karena suatu kualitas, baik itu kualitas bahan-bahan yang digunakan maupun kualitas kemampuan memasak yang mumpuni, seperti seorang chef profesional.
 
Selama kompetisi memasak berlangsung, Chef  Yuda bersama dengan Head of Public Relations Intel Indonesia, Dhyoti R. Basuki, berdiskusi terkait pentingnya menggunakan bahan-bahan berkualitas, keahlian memasak, performa yang baik, serta perhitungan waktu yang tepat untuk menghasilkan masakan yang lezat.
 
Analogi tersebut digunakan untuk menjelaskan mengapa kualitas prosesor lebih penting dari pada kuantitas core yang terdapat dalam sebuah prosesor. Sebab, sebagian besar performa dan kemampuan perangkat tablet ditentukan dari kualitas prosesor bukan dari banyaknya jumlah core.
 
Selama ini banyak yang berasumsi bahwa semakin banyak jumlah core, semakin baik pula performa sebuah prosesor. Tetapi asumsi ini sangat keliru. Ketika membahas tentang jumlah core dalam sebuah prosesor, semakin sedikit jumlahnya justru semakin efisien. Sebab, hal ini bukan hanya perkara jumlah melainkan lebih kepada kualitas dari core tersebut. 
 
Ditambah lagi, semakin banyak core yang digunakan, maka harus semakin besar upaya untuk membuat mereka bekerja bersamaan secara efisien. Dengan demikian, anggapan bahwa "semakin banyak core berarti lebih baik" tidak sepenuhnya tepat, karena tidak semua core dibuat dengan kualitas yang setara.
 
Dhyoti mengatakan bahwa ketika membeli sebuah tablet, konsumen dibuat bingung dengan berbagai pilihan yang tersedia di pasar, mulai dari berbagai macam tipe ukuran layar, sistem operasi, fitur yang beragam, serta pilihan konektivitas. Ketika berbicara soal performa serta kemampuan terbaik dari perangkat yang akan dibeli, kami percaya bahwa keberhasilan tersebut ditentukan dari kualitas teknologi di dalamnya.
 
"Di Intel, fokus kami lebih kepada kualitas yang ada di dalam perangkat tablet pengguna agar mampu memberikan performa terbaik. Dengan prosesor Intel di dalam tablet yang digunakan, hidup mereka dapat berjalan lebih cepat,” tambah Dhyoti.
 
Berikut ini beberapa tips yang dapat Anda perhatikan untuk memahami pentingnya mempertimbangkan kualitas sebuah prosesor yang terdapat dalam sebuah tablet.
 
- Performance Matters: Dengan tablet yang menggunakan prosesor terbaru Intel Atom, Anda dapat mengkonsumsi serta membuat sesuatu menjadi lebih cepat.
- Membuat konten: Hingga 2,4x lebih baik dari Windows media editing dan 3,4x lebih cepat untuk mengkonversi video.
- Fleksibilitas dan kecepatan tinggi: Menjelajah, membaca, bermain, serta menyunting segala tipe file dan situs internet favorit Anda dengan kompatibilitas sekelas PC, dan  Anda dapat melakukan hal ini lebih cepat dari sebelumnya. 
- 3D Gaming: Intel HD Graphics yang canggih dapat memberikan pengalaman memiliki tablet yang ringan, keren, dan tenang untuk bermain game favorit.
- Daya tahan baterai yang luar biasa: Nikmati film kesukaan Anda lebih lama, dengan lebih dari 10 jam daya tahan baterai.
- Visual yang menakjubkan: Nikmati resolusi layar tertinggi untuk tablet yang ada di pasaran saat ini. Didukung oleh pemutar video 4K yang menyajikan kualitas gambar yang lebih detail dan berdefinisi tinggi untuk mendapatkan pengalaman visual yang menakjubkan.
- Arsitektur 64 bit: Arsitektur 64 bit  dapat memproses dua kali lebih banyak data dan dapat mengakses kapasitas RAM lebih besar, sehingga mampu mengakselerasi aplikasi multitugas dengan data yang besar.