Akankah Android OS dan Chrome OS Melebur menjadi Satu OS?
Penulis : Iwan Ramos S.
CHIP.co.id - Apapun OS-nya, apakah Android OS, Chrome OS, atau OS bernama lainnya sebagai “one OS to rule them all” kelak, Google sudah menunjukkan beberapa langkah strategi menuju ke sana. Apabila penyatuan OS benar-benar terjadi, strategi Google akan tidak jauh berbeda dengan Microsoft yang berniat menyatukan beragam OS-nya dalam satu “payung” Windows OS.
Apabila Google dan Microsoft mulai mengindikasikan penyatuan OS untuk beragam device, raksasa platform lainnya, Apple hingga kini masih menagnut dengan prinsip pemilahan dual OS, yakni Mac OS untuk notebook, desktop, workstation, dan iOS untuk tablet (iPad), smartphone (iPhone), dan media portable device (iPod).
Bagimana peluang masing-masing OS (Android OS atau Chrome OS) untuk dipilih Google menjadi OS masa depan? Hanya Google dan waktu yang akan menjawabnya. Kronologis yang terjadi beberapa tahun belakangan ini masih belum memberi indikasi kuat, apakah Google akan memilih Android atau Chrome sebagai OS masa depan.
Argumen dipilihnya Android sebagai OS masa depan Google bisa dilihat dari beberapa fakta berikut ini. Pertama, Android OS saat ini boleh dianggap sebagai platform mobile dari Google yang paling banyak digunakan saat ini. Jadi, cukup masuk akal jika Google memilihnya dengan alasan Android sebagai OS sudah akrab bagi pengguna smartphone dan tablet, termasuk ekosistem hardware dan software yang telah kuat pondasinya.
Fakta lainnya yang tidak kalah penting adalah metamorfosis lainnya dari Android sejak kemunculan versi awalnya di tahun 2008 hingga saat kini. Bukan hanya hadir di dalam smartphone dan tablet, turunan Android OS pun juga hadir di perangkat elektronik lainnya, seperti smart TV, kamera digital,smart glass (Google Glass), smartwatch, in-car system, media player, VoIP phone, dan game console.
Jumlah smartphone Android yang telah berhasil dipasarkan sejak tahun 2010 hingga akhir 2013 tercatat telah mencapai 1.5 milyar unit. Bahkan jumlah ini akan diprediksi akan berlipat dua jumlah di akhir tahun 2014. Bukan suatu kejutan jika seandainya Google pun memilihnya sebagai OS andalannya unutk masa mendatang.
Meskipun arsitektur Android OS tidak dipersiapkan secara awal sebagai OS lengkap yang ideal juga untuk desktop/notebook seperti Microsoft Windows, bukan hal sukar bagi Google untuk mengembangkannya lebih lanjut menjadi OS ideal bagi semua device.
Android OS yang sudah melewati fase perkembangan panjang (kini telah mencapai versi 5.0) bukan hanya hadir pada smartphone dan tablet, tetapi juga smart TV, kamera digital, smart glass (Google Glass), smartwatch, in-car system, media player, VoIP phone, dan game console.
Kernel Android OS yang awalnya berbasis Linux kernel long-term support (LTS) telah jauh dikembangkan/dimodifikasi dalam berbagai aspek sesuai kebutuhan Google. Android terkini (Android 5.0 Lollipop) yang dikembang dari Linux kernel 3.4 bahkan telah sarat dengan feature yang dianggap berperan penting agar Android lebih siap untuk beragam device. Dua feature yang bisa dijadikan indikasi itu adalah feature multiple device compatibility dan interface berbasis Material Design.
Meskipun bukan produsen hardware, Google berkepentingan untuk menyiapkan berbagai aspek untuk semua layanan/solusinya. Seperti program Nexus untuk Android, tanggungjawab Google untuk Chrome OS juga diwujudkan mereka dengan program Chromebook, termasuk besutannya sendiri, Chromebook Pixel.
Bagaimana dengan peluang Chrome sendiri sebagai OS pilihan Google di masa mendatang? Meskipun masih belum hadir secara luas di pasaran (hanya digunakan pada notebook Chromebook), perkembangan setahun belakang ini yang terjadi di internal Google bisa memberikan sedikit petunjuk pada kita.
Setahun lalu, Sundar Pichai yang selama ini aktif di unit Chrome dan Google Apps ditunjuk juga menggawangi Android yang sebelumnya dipegang oleh Andy Rubin. Kesuksesan Pichai menghantarkan Chrome menjadi browser populer saat ini dianggap menjadi salah satu alasan penunjukannya. Pichai mungkin dianggap bisa menjawab tantangan Google dalam mengembangkan kedua OS tersebut untuk menjawab tantangan yang dihadapi di masa mendatang.
Chrome OS yang sederhanya bisa dianggap sebagai suatu sistem operasi dalam kemasan browser ini mulai diagendakan Google untuk bisa menjalankan aplikasi Android (Android app) pada konferensi Google I/O. Salah satu cara yang ditempuh Google adalah mengintegrasikan programming framework Android yang “beraroma” Java.
Kepentingan besar lainnya dalam penggabungan platform ini tidak lain adalah untuk memudahkan para pengembang mengembangkan suatu app tanpa harus dipusingkan dengan beragam target device dan platform. Dengan demikian, apapun tantangan Google dalam memadukan kedua OS (jika memang terjadi) bukanlah masalah utama. Google akan lebih cemas jika ekosistem mereka, termasuk OS di dalamnya, bukan menjadi pilihan mayoritas bagi berbagai pihak.
No comments:
Post a Comment